Friday, August 29, 2008

Melestarikan Tradisi

Setiap menjelang bulan Ramadhan, ada dua hal yang biasanya selalu dilakukan masyarakat kita, dimanapun berada (nggak tau lagi kalo yang jadi TKI diluar neger hehehehe!). Yang pertama adalah sambang kuburan alias nyekar atau ziarah. Seminggu terakhir ini, sekeliling tempat tinggal mertua saya di kawasan Sidosermo, terutama yang ada makamnya tentu, rame dengan mereka yang akan nyekar keluarganya, begitu juga di makam-makam lain.

Saya sendiri sebelumnya bersama orangtua yang jauh-jauh datang dari Jakarta, yaa menyempatkan diri nyekar ke makam Mbah Kakung dan empat orang adik Mbah Putri saya, yang sudah duluan berpulang, sementara Mbah Putri saya masih dapet bonus hidup entah sampai berapa tahun lagi. Makam para mbah saya itu terletak di Kembang Kuning, karena kebetulan mereka semua beragama Nasrani. Tapi buat saya itu ndak masalah, yang penting saya ziarah juga sekaligus mengingatkan saya sendiri, tentang apa yang bakal saya hadapi, pasti bakal sama seperti yang sudah lebih dulu merasakan, yaitu mati.

Satu tradisi lagi yang biasanya juga selalu dilakukan masyarakat, yang kalau dulu kebanyakan dilakukan hanya pada saat Idul Fitri, sekarang sudah banyak yang melakukannya sebelum Ramadhan tiba. Yap! Itu adalah meminta maaf kepada siapa saja, terutama yang punya hubungan, entah hubungan darah, relasi, atau hubungan yang lain yang ternyata pernah ada masalah, kesandung sesuatu, dan lain-lain. Dan sayapun juga ndak ketinggalan, melalui forum ini, izinkan saya dan keluarga juga menghaturkan maaf yang sebesar-besarnya dari lubuk hati yang terdalam, kalau memang ada kalimat-kalimat yang nyentilnya kebangetan sampai mungkin anda yang membaca bisa merah merona manja wajahnya, hehehe! Semoga di masa training Ramadhan, khususnya bagi umat Islam, yang menjalankan dengan sungguh-sungguh akan mendapat berkah kemenangan dan ampunan dosa dari Allah SWT. Dan semoga saya juga termasuk dikalangan orang-orang yang seperti itu. Amin ya rabbal alamin.

Buat yang beragama Islam, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Semoga Kita Semua Bisa Menjadi Muslim Yang Taat Sebenar-benarnya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh....

Tuesday, August 26, 2008

KONFLIK DI SUARA SURABAYA MEDIA

Ada pepatah, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Begitu juga dengan yang terjadi di sebuah media yang sudah dianggap besar, punya pendengar militan, dan dianggap paling profesional dengan tarif iklan ekstra mahal untuk kalangan Jawa Timur. Yap! Suara Surabaya Media yang punya nama besar itu, akhirnya guncang juga, setelah kasus yang menimpa Hendro Dwijo Laksono Chief Editor majalah Mossaik (alm) muncul ke permukaan. Berikut petikan beritanya, yang saya ambil dari situs milik Asosiasi Jurnalis Independen di Surabaya....

Terancam PHK, Jurnalis SS Media Ngadu ke LBH dan AJI
Budi Sugiharto - detikSurabaya

Surabaya - Kasus perselisihan antara jurnalis dengan perusahaan kembali terjadi. Kali ini dialami Hendro D. Laksono, Chief Editor majalah Mossaik (grup Suara Surabaya Media). Hendro mengaku diberlakukan dengan tidak adil dan mengadukan nasibnya ke AJI dan LBH Surabaya.

Dalam siaran pers AJI Surabaya yang diterima detiksurabaya.com, Selasa (12/8/2008), mulai 19 Juli 2008 hingga 18 Agustus 2008, Hendro diskorsing sembari menunggu sanksi dari perusahaan atas 'pelanggaran' yang dituduhkan kepadanya.

Hendro masuk Suara Surabaya Media (SS Media) sekitar bulan Juli-Agustus Oktober dan diminta untuk membangun dan mengembangkan sebuah majalah Mossaik yang terbit perdana pada Desember 2002. Hendro menjabat sebagai Manager/Chief Editor.

Sayangnya, kondisi bisnis Mossaik tak memperlihatkan perkembangan positif. Seperti dilansir AJI Surabaya, hingga pada Februari-Maret 2006, Suara Surabaya Media mempersiapkan majalah baru Surabaya City Guide. Mei 2006, wacana penutupan Mossaik mulai muncul, ketika Errol Jonathans (Direktur Operasional) memanggil Hendro dan menyatakan akan menutup Mossaik karena alasan bisnis yang bermasalah (merugi).

Padahal jauh sebelumnya, Majalah Mossaik malah sering dihadapkan pada pemahaman bahwa produk ini tidak memiliki beban profit 100%. Karena Majalah Mossaik diposisikan sebagai proyek idealis SS Media yang berorientasi pada pencitraan.

Januari 2007, Suara Surabaya Media meluncurkan EastJava Traveler (EJT), sebuah majalah hasil kerja sama SS Media dengan Disparta Jatim di bawah Mossaik Media Communication atau M-COMM. Produk yang diharapkan bisa berkibar ini pun akhirnya berhenti terbit.

Masuk tahun 2008, tepatnya pada pertengahan tahun, isu pemecatan kru Mossaik mulai muncul. Beberapa tim Mossaik ditanggil secara bergiliran, karena ada isu aktifitas side job yang dikerjakan oleh kru Mossaik. Meskipun tidak terbukti. Hendro pun bernasib sama. Hendro dituduh membuah lembaga baru yang 'bertabrakan' dengan M-COMM.

Hendro bersikukuh jika tudingan itu tak berdasar. "Saya sudah melibatkan LBH dan AJI sebagai konsultan hukum. Mereka sementara ini sebatas masih memberi masukan saja," kata Hendro yang dihubungi detiksurabaya.com. Pada sidang tanggal 19 Juli 2008 dengan HRD SS Media serta GM M-COMM, dirinya dituduh melakukan aktivitas yang sama dengan pekerjaan saya di SS Media, tambahnya.

"Saya ditawari memilih PHK atau mengundurkan diri. Kalau PHK saya minta sejak dulu, cuma alasannya bukan pelanggaran integritas. Tapi memang saat itu Mossaik tutup," ungkap Hendro.

Padahal, kata Hendro, usaha konsultan media yang dirintisnya itu sudah berdiri pada tahun 2002 (akta notaris), empat tahun sebelum M-COMM berdiri. "Jadi saya merasa tidak melakukan pelanggaran apapun. Apalagi, sejak masuk buan Juli atau Agustus tahun 2002 hingga sekarang, atribut yang dibebankan pada saya adalah Chief Editor Majalah Mossaik, bukan manajer M-COMM," tegas Hendro.

Direktur Umum Administrasi SS Media Romi Febriansyah membenarkan jika Hendro telah diskorsing karena melakukan pelanggaran berat.

"Sudah diskorsing. Karena ada pekerjaan yang sama dengan bisnis kita di SS Media. Kasus ini sudah diserahkan ke Disnaker untuk mediasi. Ini pelanggaran yang berat. Kita tunggu keputusan disnaker apapun itu," kata Romi kepada detiksurabaya.com.
(gik/gik)

Surat Disnaker Datang, "Pertempuran" Dimulai

Surat Panggilan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Surabaya dalam kasus perburuhan antara Chief Editor Majalah Mossaik, Hendro D. Laksono vs Suara Surabaya Media diterima Hendro D. Laksono, Selasa (19/08/08) ini. Dalam surat itu, Disnaker Surabaya meminta pihak yang berselisih, Hendro dan Pimpinan Suara Surabaya, Soetojo Soekomiharjo untuk datang ke kantor Disnaker Surabaya Selasa (26/08/08) ini.

Uniknya, surat Disnaker bernomor 560 itu menuliskan "Sdr. Hendro D. Laksono, dkk", sebagai pihak ke-2 yang berselisih. "Ini yang membingungkan saya, mengapa Disnaker menilai saya dan kawan-kawan (diwakili dengan singkatan "dkk" yang tertulis dala surat itu), apakah ada kawan lain yang akan bernasib seperti saya," kata Hendro. Lebih jauh Hendro mengatakan, sebagai bagian dari upaya menghormati proses hukum, dia akan menghadiri undangan Disnaker tersebut.

Sementara itu, Athoillah dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya mengatakan, bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, pihaknya akan terus mengawal proses kasus perburuhan ini. Karena hal ini sekaligus menjadi upaya mengawal kasus perburuhan dengan adil sesuai hukum. "Kalau bukan buruh yang mengawal kasus ini, lalu siapa lagi, untuk itu kita harus mengikutinya, dan berharap ada keadilan di dalamnya," kata Athoillah.

Melalui surat itu Disnaker Surabaya menawarkan kepada dua pihak yang bersengketa untuk memilih dua solusi, Konsiliator atau Arbiter. Sesuai dengan pasal 4 ayat (3) Undang-undang No.2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI). "Apa pilihan Hendro, tetap kami dukung," kata Athoillah.

Sejak kasus sengketa perburuhan Hendro D. Laksono dan Suara Surabaya Media mencuat, AJI Surabaya mendapatkan berbagai dukungan dari dalam dan luar negeri, melalui email. Sebagian besar dari email itu meminta Hendro D. Laksono untuk menjaga energi, karena kasus perburuhan selalu berhadapan dengan berbagai kendala. "Yang paling parah adalah tidak adanya mainset dukungan terhadap buruh," tulis salah satu email itu.

Sebelumnya, Suara Surabaya Media juga mengirim surat ke Hendro perihal perpanjangan masa skorsing. Dalam surat yang ditandatangani oleh Direktur Umum Administrasi Rommy Febriansyah itu, Hendro yang seharusnya mulai bekerja kembali pada 19 Agustus 2008 ini, "dipaksa " untuk kembali menerima skorsing hingga ada proses penyelesaian mediasi dari Disnaker. "Apapun itu, Saya akan tetap menghormati rules of the game. Yang Saya khawatir, justru nasib teman-teman Saya yang sampai sekarang masih bekerja di sana (Suara Surabaya Media). Jangan sampai merasakan apa yang saya rasakan,.." kata Hendro.***

Dan ini perkembangan terbaru yang saya dapatkan hari ini...

Bipartit Hendro-SS Tak Capai Kata Sepakat

Yudi Tirzano dan Andreas Wicaksono

Proses penyelesaian perselisihan antara Hendro D. Laksono, Chief Editor Majalah Mossaik dengan perusahaannya bernaung Suara Surabaya (SS) Media resmi memasuki tahap bipartit. Penyelesaian dua pihak berselisih dalam perusahaan itu dilakukan di kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Surabaya, Selasa (26/8) siang. Pada pertemuan yang berlangsung pukul 11.30-12.00, kedua pihak tidak mencapai kata sepakat mengenai persoalan yang diselisihkan.

Hendro datang didampingi Mohammad, perwakilan dari LBH Surabaya. Di lain pihak SS Media diwakili oleh tim Kuasa Hukum dan Rommy Febriansyah, Direktur Umum & Administrasi. Seperti diketahui Majalah Mossaik bernaung di bawah manajemen SS Media yang juga mengelola radio Suara Surabaya FM.

Mohammad mengungkapkan pertemuan tidak mencapai sepakat karena kedua belah pihak bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Hasil pertemuan dinyatakan secara tertulis dalam Risalah Pertemuan Bipartit. Selanjutnya risalah diserahkan kepada pihak Disnaker Kota Surabaya yang diterima oleh staf Bidang Hubungan Industrial dan Syarat Kerja, SR Fataring Diana.

"Masih akan dilakukan pertemuan kedua. Mengenai waktu terserah mas Hendro kapan bisa digelar lagi. Kemudian kami sampaikan kepada pihak SS Media," kata Mohammad usai pertemuan.

Hendro bersikukuh tidak terjadi pelanggaran integritas yang kemudian berbuntut diberikan sanksi skorsing seperti yang dituduhkan pihak manajemen SS Media. Sementara Rommy menyatakan bahwa Hendro telah melakukan pelanggaran serius karena bekerja pada perusahaan lain seperti yang dituduhkan. "Tidak boleh bekerja di tempat lain yang memiliki bisnis yang sama dengan perusahaan," tegas Rommy.

Tolak Mundur

Sebelum pertemuan bipartit digelar, Muhammad sempat menyatakan penolakan terhadap tawaran penyelesaian tripartit yang melibatkan karyawan, perusahaan dan Disnaker Kota Surabaya. Awalnya pihak Disnaker Kota Surabaya, melalui staf bidang Hubungan Industrial dan Syarat Kerja, Fataring Diana menawarkan mekanisme penyelesaian Tripartit kepada kedua pihak.

Namun LBH Surabaya menolak karena selama terjadi perselisihan pihak Hendro dengan manajemen SS Media belum sekalipun dilangsungkan pertemuan bipartit. "Pertemuan-pertemuan kedua pihak sebelumnya bukan termasuk bipartit karena tidak ada risalah," kata Muhammad.

Hendro mengakui sebelum berlanjut ke pihak Disnaker, telah diadakan pertemuan dirinya dengan manajemen SS Media. Dalam pertemuan dengan pihak manajemen, Hendro disodori tawaran mengundurkan diri secara sukarela. Tetapi dia menolak jika pengunduran diri yang dikaitkan dengan pelanggaran seperti dituduhkan pihak SS Media.

"Dalam pembicaraan informal memang sudah dibahas mengenai pilihan pensiun dini dan PHK (pemutusan hubungan kerja). Tetapi pihak SS Media tidak mengenal PHK sehingga saya diminta mengundurkan diri," urai Hendro.

Sunday, August 24, 2008

Oalah Gas...Gas....

Hari ini, lagi-lagi masyarakat sebagai konsumen, harus berhitung lagi untuk pengeluarannya, karena mulai hari ini, harga gas alam cari yang biasa disebut Elpiji atau LPG, kembali naik, dan kisaran harganya sekarang sudah mencapai 70 ribu untuk ukuran 12 kg.

Menurut orang-orang pemerintahan yang saya baca komentarnya di koran kemarin, kenaikan ini untuk mengurangi subsidi secara bertahap, disamping untuk mendekati harga keekonomian dari elpiji itu sendiri. Yang lainnya, lagi-lagi alasan laba dan rugi kembali diketengahkan Pertamina, yang dulu sempat populer dengan gambar dua kuda laut di kiri kanan itu, yang dulu juga sempat diplesetkan jadi gambar 2 tikus, karena saking banyaknya korupsi yang konon sangat banyak disana.

Dari sini, saya jadi makin tidak mengerti dengan apa yang disebut sebagai sosok pemerintah. Benarkah pemerintah itu hanya berfungsi sebagai broker dan bakul? Karena setiap kali ada kenaikan harga bahan tambang yang diumumkan, selalu berlatarbelakang keekonomian, merugi, dan mengurangi subsidi.

Hei, semua tahu kalau APBN memang jadi berat bebannya kalau harus mensubsidi terus-menerus. Tapi sebetulnya, apa sih fungsi pemerintahan itu sendiri? Kalau hanya sekedar mengungkap untung dan rugi, mendingan NGGAK USAH ADA PEMERINTAHAN SEKALIAN!!!!! daripada ternyata rakyat lagi dan rakyat lagi yang menjadi bemper alias selalu kena dampaknya. Sementara yang duduk di kursi pejabat, tidak akan pernah bisa merasakan pahitnya hidup, yang bahkan menurut sebuah survei, kenaikan harga-harga ini mengakibatkan makin banyak penderita sakit jiwa.

Rupanya contoh sayyidina Umar Bin Khatab, yang rela memanggul sendiri bahan makanan untuk seorang ibu miskin yang kelaparan, tidak menjadi contoh buat pemimpin di negeri ini. Yang kepikir cuma HARTA, TAHTA, WANITA!!! Tuh liat aja di tivi. Betapa banyak orang-orang yang seharusnya melaksanakan amanah dari rakyat, yang itu juga berarti dari Tuhan karena dipercaya menjadi pemimpin, malah jadi orang-orang yang terlibat bancakan uang rakyat, bagi-bagi duit rakyat buat keperluan pribadi, bahkan sampai ada yang tidur dengan wanita lain, padahal dia sudah beristri.

Astagfirullahaladzim. Mudah-mudahan Allah mengampuni mereka yang tidak kreatif dan sudah menjerumuskan rakyat makin dalam pada kesengsaraan, dan mengembalikan bangsa ini pada kejayaan

Saturday, August 16, 2008

Hari Ini Lima Tahun Yang Lalu

Hari ini, lima tahun yang lalu...

Mata masih mengantuk, waktu juga masih menunjukkan pukul lima pagi, tapi orangtua dan para sanak kerabat yang nginep dirumah sudah pada sibuk. Bukan apa-apa, memang pada hari itu, ada momen yang amat sangat penting, mengalahkan pentingnya perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat.

Yap! Persis pada 17 Agustus 2003, resmi aku melepas masa lajangku, mempersunting seorang gadis pilihanku, yang ternyata baru ketemu jodohnya sesudah aku hampir selesai kuliah. Bukan orang jauh sih, karena dia dulunya temen sekelas waktu SMA. Tapi jangan salah sangka dulu! Waktu SMA kita samasekali nggak pacaran. Bahkan untuk bisa ngobrol dekat dan intimpun tidak pernah terlintas samasekali. Waktu itu dia jadi Bendahara Kelas, sedangkan aku kebagian peran jadi tukang kasbon alias nunggak uang kas kelas, hehehe! . Cinta baru bersemi, justru pada saat aku tengah menghadapi masa terakhir kuliahku tahun 2000. Kebetulan di bulan Agustus juga, persisnya tanggal 12, sesudah pedekate yang alhamdulillah lumayan lancar, akhirnya kita jadian. Dan sesudah tiga tahun saling berusaha mengenal dan memahami satu sama lain, akhirnya kita pun meresmikan hubungan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Jelas tau kan? Iya dong! Masa pacaran doang? heheheh!

Proses pemilihan tanggal, sampai akhirnya jatuh ke 17 Agustus 2003 itu sebetulnya juga bukannya asal pilih, terus dipas-paskan dengan momen kemerdekaan Indonesia. Awalnya, ada beberapa alternatif tanggal yang ditawarkan mertuaku. Yang paling dekat ya 17 Agustus ini, sementara alternatif lainnya sekitar akhir Desember, terus Februari 2004, atau Mei 2004. Waktu itu karena bulan Januari sampai Februari 2004 aku dan keluarga menunaikan ibadah haji, jadinya jelas nggak mungkin milih waktu-waktu itu. Mau Mei 2004 juga kejauhan. Pas milih bulan Desember, mertuaku yang nggak sepakat karena pada saat itu mereka juga punya acara keluarga. Akhirnya orangtuaku memutuskan untuk memilih 17 Agustus, dan itu sekitar tiga minggu dari tanggal kedatangan mertuaku kerumah orangtuaku, untuk rundingan tanggal pernikahan.

Begitu orangtuaku menunjuk 17 Agustus, ibu mertua yang tadinya duduk tegak, langsung agak merosot ke sandaran kursi. Konon menurut cerita beliau sih, nggak nyangka juga bakal dipilih yang paling dekat, jadinya spaneng alias bingung sebingung-bingungnya hehehe! Oke, tapi the show must go on, jadinya persiapan mulai dilakukan secepat dan sekilat mungkin. Akad nikah direncanakan berlangsung di Masjid Al Akbar Surabaya, dan alhamdulillah takmir masjid tidak ada masalah, meskipun harinya juga hari Minggu seperti hari ini. Nah, ini sekilas rekaman perjalananku melepas masa lajang, untuk kemudian hidup bersama pendamping yang diberikan Allah SWT padaku...

Alhamdulillah, Allah ternyata langsung mengaruniakan seorang putri yang jelita. Jadi begitu habis nikah, sembilan bulan kemudian lahirlah bidadariku yang kuberi nama Rizkika Amanda Kusumawardhani.

Kalo kata orang Cina, lima tahun perkawinan diistilahkan dengan kawin kayu. Masih banyak badai yang harus kami hadapi. Tapi aku berharap, semoga ini adalah jodoh yang pertama dan terakhir. Doain yee supaya pernikahan ini bakal terus langgeng, sampe kakek-nenek, dan akhirnya Till Death Do Us Part.

To my lovely wife Fin Nurika Setiana, this is our first of five years marriage. All the best hope is just for you, and also our lovely sweet angel Kika. I love you all......

Monday, August 11, 2008

Becoming Narasumber

Hehehe! Kalo liat judul diatas, kesannya jadi ndeso banget ya? Tapi yaa memang gitu sih yang tak alami. Tadi (11/8/2008) jam setengah sepuluh malem, bandku, ya Archangel itu, dapet undangan wawancara dari Hard Rock FM. Tentu saja isinya ya seputar Arch dan planning untuk albumnya.

Kalo dulu biasa nanyain orang pas masih siaran, eeh sekarang malah jadi narasumbernya, hehehe! Jadinya ya sempet bingung juga mau ngomong apa mo jawab apa. Tapi alhamdulillah, gara-gara dulu sering nanyain orang kalo siaran, jadinya yaa lancar juga ngomongnya. Mungkin yang baca blog ini pada nanya juga, mana nih fotonya? Tenang...tenang! Kebetulan yang bawa kamera bukan aku sendiri, tapi ada temen namanya Deddy, seorang pencinta rock sejati, dan juga dulu aku kenalnya gara-gara sering nongkrong di SS kalo acara Klasik Rock (alm) itu tiap malem minggu jam 9. Sementara tustelnya masih dibawa dia, jadi sabar dulu ya, insya Allah pasti dimuat kok foto pas wawancaranya, buat jadi bukti nyata. Iya dong! Kalo ndak pake skrinsyut atau foto otentik, ntar dikira tebar gosip doong!!

Oya satu lagi, memang undangan ini mendadak banget. Aku tadi sore baru tau pas ditelpon Leo vokalis Arch. Alhamdulillah ada waktu, jadinya bisa dateng. Nyesel juga pas dulu pada diwawancara Istara ndak bisa dateng. Apalagi waktu itu ndak ada yang mengabadiken. Jadinya garingan. Padahal disuruh maen juga disitu. Oya, buat yang pengen tau Archangel juga, monggo dibuka www.myspace.com/thearchangelband dan insya Allah kita bakal main di Hard Rock FM di acara Drive n Jive Jumat jam 4 sore tanggal 15 Agustus ini.

Cuma satu harapan saya sih....pas acara nanti bisa maen bagus, itu aja. Maklum bandnya metal sih, jadi rasanya kok aneh disuruh maen akustikan. Tapi ndak papa. Namanya juga kita udah diundang, so thanks a lot juga buat HRFM yang udah ngundang kita, en nyuruh cuap-cuap di mikropon (jadi inget kisah 7 taun itu, hehehe!)

Becoming Narasumber

Hehehe! Kalo liat judul diatas, kesannya jadi ndeso banget ya? Tapi yaa memang gitu sih yang tak alami. Tadi (11/8/2008) jam setengah sepuluh malem, bandku, ya Archangel itu, dapet undangan wawancara dari Hard Rock FM. Tentu saja isinya ya seputar Arch dan planning untuk albumnya.

Kalo dulu biasa nanyain orang pas masih siaran, eeh sekarang malah jadi narasumbernya, hehehe! Jadinya ya sempet bingung juga mau ngomong apa mo jawab apa. Tapi alhamdulillah, gara-gara dulu sering nanyain orang kalo siaran, jadinya yaa lancar juga ngomongnya. Mungkin pada nanya juga, mana nih fotonya? Tenang...tenang! Kebetulan yang bawa kamera bukan aku sendiri, tapi ada temen namanya Deddy, seorang pencinta rock sejati, dan juga dulu aku kenalnya gara-gara sering nongkrong di SS kalo acara Klasik Rock (alm) itu tiap malem minggu jam 9. Sementara tustelnya masih dibawa dia, jadi sabar dulu ya, insya Allah pasti dimuat kok foto pas wawancaranya, buat jadi bukti nyata. Iya dong! Kalo ndak pake skrinsyut atau foto otentik, ntar dikira tebar gosip doong!!

Oya satu lagi, memang undangan ini mendadak banget. Aku tadi sore baru tau pas ditelpon Leo vokalis Arch. Alhamdulillah ada waktu, jadinya bisa dateng. Nyesel juga pas dulu pada diwawancara Istara ndak bisa dateng. Apalagi waktu itu ndak ada yang mengabadiken. Jadinya garingan. Padahal disuruh maen juga disitu. Oya, buat yang pengen tau Archangel juga, monggo dibuka www.myspace.com/thearchangelband dan insya Allah kita bakal main di Hard Rock FM di acara Drive n Jive Jumat jam 4 sore tanggal 15 Agustus ini.

Cuma satu harapan saya sih....pas acara nanti bisa maen bagus, itu aja. Maklum bandnya metal sih, jadi rasanya kok aneh disuruh maen akustikan. Tapi ndak papa. Namanya juga kita udah diundang, so thanks a lot juga buat HRFM yang udah ngundang kita, en nyuruh cuap-cuap di mikropon (jadi inget kisah 7 taun itu, hehehe!)

Friday, August 08, 2008

Ngumpulin Lagu Karya Sendiri (dan keroyokan)

Sebetulnya udah lama banget punya cita-cita terpendam, ngerekam lagu-lagu hasil ciptaan sendiri, maupun ciptaan bareng temen-temen band waktu SMA dan kuliah dulu. Alhamdulillah Selasa 3 Agustus kemarin niat itu akhirnya kesampaian.

Bertempat di studio Natural di daerah Gayungan PTT, saya berangkat sorangan alias dhewean. Betul-betul jadi anak band, soalnya mulai drum, gitar, bass, sampai vokal saya isi sendiri. Kemaruk! Hehehehe! tapi yaa mau gimana lagi? Wong kalo mau ngumpulin para penyanyi alias vokalis di jaman saya ngeband dulu, sudah entah pada kemana mereka semua. Nomer hape pun tak ada yang punya. Jadilah semua saya lakuken sendiri. Sesi rekaman yang cuma 4 jam itu betul-betul tidak saya sia-siakan, sampai om Irwan sang empunya studio geleng-geleng kepala liat saya berjibaku sendirian.

Aslinya sih ada 8 sampai 9 lagu yang mau saya rekam. Tapi berhubung waktu (dan modal tentunya hehehe!) yang juga terbatas, akhirnya yang terekam hanya 6 lagu. Aslinya sih 7, tapi berhubung pas mau ngerjain sesi bass, ternyata saya kepanjangan ngisi track drumnya, akhirnya lagu itu pun dibatalkan. Padahal justru itu lagu ciptaan saya sendiri, hiksss..konyol banget deh! . Beberapa lagu yang saya rekam itu, ada yang pas lagi bantuin temen-temen dari Akpar Satya Widya angkatan 97-an, trus ada juga yang punya temen saya SD, nama panggilannya Wiwid. Ada lagi pas dulu kelas 1 SMA dan belajar band-band'nan ternyata vokalis saya dulu namanya Fandi, punya lagu slow yang oke buat ikutan festival rock. Sisanya ciptaan saya sendiri. Buat temen-temen yang nantinya ngeklik lagu-lagu ini, dimohon jangan ketawa ya? soalnya karena memang bener-bener ndak ada yang nyanyi, saya sendiri yang akhirnya jadi vokalis. Padahal suara saya bukan suara penyanyi. Asal nyampe aja sih, hehehehe!

Tuesday, July 01, 2008

Naik Lagi, Mundak Maning...Dll...

Pas hari ini tanggal 1 Juli, ibu-ibu rumah tangga dan mereka yang memanfaatkan barang yang satu ini, harus kembali mengelus dada, dan lebih meras otak, keringat, dan dompet lagi untuk membelinya. Yap, barang itu adalah Liquified Petroleum Gas atau yang biasa kita panggil dengan Elpiji.

Gas yang juga tengah digencarkan pemakaiannya oleh pemerintah ini, kembali meroket, bahkan nggak tanggung-tanggung. Dari 51 ribu menjadi 63 ribu Rupiah untuk yang berukuran 12kg. Dan kembali tentunya polemik muncul ke permukaan, terutama yang menyangkut janji-janji pemerintah, terutama Presiden waktu dulu, termasuk pernyataan Pertamina yang tidak akan menaikkan harga elpiji. Well, janji-janji tinggal janji. Apa yang sudah menjadi ludah, ternyata dijilat kembali, bahkan ditelan lagi oleh mereka-mereka yang pernah membuat pernyataan dan janji-janji gombal mukiyo itu. Apalagi begitu harganya naik, KPPU alias Komisi Pengawas Persaingan Usaha mulai curiga, ada penyelewengan yang dilakukan Pertamina, karena mekanisme kenaikan yang tidak jelas, apakah itu ikut harga pasar, atau ikut mekanisme pemerintah. Berikut saya kutipkan tulisan Jawa Pos edisi hari ini.

Harga Elpiji 12 Kg Jadi Rp 63 Ribu
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) akhirnya merealisasikan rencananya menaikkan harga elpiji kemasan tabung ukuran 12 kilogram (kg). Mulai hari ini, perusahaan migas pelat merah itu menentapkan harga Rp 5.250 per kg dari sebelumnya Rp 4.250. Dengan begitu, harga elpiji tabung 12 kg naik, dari Rp 51 ribu menjadi Rp 63 ribu.

''Kenaikannya 23 persen,'' ujar Pjs Vice President Komunikasi Pertamina Ifky Sukarya di Jakarta kemarin (30/6). Kenaikan tersebut sedikit lebih tinggi daripada rencana, yakni Rp 60.000 per tabung. Menurut Ifky, harga jual sebesar itu berlaku untuk agen dalam radius sampai 60 km dari instalasi utama Pertamina dan/atau SPPBE (stasiun pusat pengisian bahan bakar elpiji).

Untuk wilayah di luar radius 60 km, ada tambahan biaya angkutan yang disesuaikan dengan ketentuan surat keputusan menteri perhubungan. ''Harga jual elpiji tabung 3 kg tetap, yaitu Rp 4.250 per kg di agen atau Rp 12.750 per tabung 3 kg,'' katanya.

Ifky menjelaskan, penyesuaian harga elpiji perlu dilakukan karena harga di pasar internasional (referensi harga CP Aramco) naik tajam.

Saat harga jual elpiji ditetapkan Rp 4.250 per kg pada 2005, harga CP Aramco USD 310 per metrik ton (MT). Namun, saat ini harga pasar elpiji internasional CP Aramco sudah USD 830 per MT atau melonjak 173 persen.

Jika dihitung, harga keekonomian elpiji saat ini Rp 10.140 per kg. Dengan harga jual Rp 5.250 per kg, Pertamina masih menyubsidi Rp 4.900 per kg. ''Karena itu, perlu penyesuaian harga,'' terangnya. Apalagi, lanjut Ifky, terjadi peningkatan biaya operasional dan distribusi karena kenaikan harga BBM.

Kenaikan biaya operasional meliputi ongkos transportasi, margin agen, dan fee pengisian sebesar 15-20 persen. Penyesuaian harga tersebut diharapkan memberikan iklim usaha yang realistis bagi agen elpiji Pertamina untuk memperbaiki pelayanan kepada konsumen. ''Pertamina berupaya menjamin ketersediaan elpiji,'' ujarnya.

Namun, dia berharap masyarakat membeli elpiji sesuai dengan kebutuhan. Jika konsumsi masyarakat tidak melonjak, stok elpiji 83.217 MT cukup untuk memenuhi 17 hari kebutuhan nasional. ''Stoknya masih aman,'' tandasnya.

KPPU Soroti Binis Elpiji

Langkah Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kg menarik perhatian Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Hal yang disorot adalah mengapa penetapan harga elpiji 12 kg yang menyangkut hajat hidup orang banyak dilakukan Pertamina, bukan pemerintah.

Anggota KPPU Taddjudin Noer Said mengatakan, pihaknya menengarai adanya potensi penyelewengan terkait ketidakjelasan aturan mekanisme penetapan harga elpiji. Bagi KPPU, aturan saat ini tidak tegas; apakah harga elpiji diperlakukan seperti BBM yang ditentukan pemerintah atau dilepas ke harga pasar. ''Ini harus jelas supaya tidak menimbulkan salah interpretasi,'' ujarnya dalam seminar ''Industri Hilir Migas'' di Jakarta kemarin (30/6).

Menurut dia, harga elpiji yang saat ini digunakan masyarakat secara luas seharusnya ditetapkan pemerintah, bukan Pertamina secara korporat. KPPU menilai posisi elpiji saat ini sudah seperti BBM. Karena itu, seharusnya ada regulasi yang membuat tidak ada monopoli lagi. Artinya, penetapan tarif yang dilakukan sebuah korporat berpotensi mengganggu iklim persaingan sektor hilir migas. ''Seharusnya memang pemerintah yang menetapkan harganya,'' terangnya.

Dirjen Migas Departemen ESDM Luluk Sumiarso mengatakan, pemerintah sudah membuat golongan BBM maupun gas yang masuk dalam kategori tertentu. ''BBM jenis inilah yang harganya diatur pemerintah,'' ujarnya. BBM yang masuk dalam kategori tersebut adalah premium, minyak tanah, dan solar untuk konsumsi masyarakat.

Elpiji yang termasuk golongan bahan bakar tertentu adalah elpiji kemasan tabung 3 kg. Elpiji 12 kg untuk rumah tangga dan 50 kg bagi kalangan komersial digolongkan sebagai bahan bakar industri.(owi/oki)
Kalau toh memang kebijakan-kebijakan menaikkan harga selama ini, atas nama penyelamatan anggaran, apa iya tidak ada langkah kreatif selain menaikkan harga? Listrik pun juga mulai ancang-ancang naik lagi tarifnya. Jangan-jangan benar kata sebuah pepatah satir,, kalau yang bisa turun itu cuma celana.

Sunday, June 29, 2008

Nggak Nasionalis?

Ini sedikit cerita yang saya dapet, waktu nemenin keluarga liburan di tempat orangtua di Jakarta. Kebetulan karena waktu itu terlintas sebuah ide, pas lagi jalan-jalan di mal, yang fotonya juga saya upload di blog sebelum ini. Idenya sih, gara-gara pas lagi di mal itu, saya nemenin putri saya nonton shownya Hello Kitty di Plasa Senayan.

Pas lagi nunggu munculnya sang tokoh kartun pujaan anak-anak dari taun 70-an itu, nggak sengaja saya dengar sekumpulan orang disekitar saya lagi ngobrol. Memang sih nggak ada niat buat nguping, karena saya pikir ya ngapain juga nguping pembicaraan orang. Tapi ada yang menggelitik pikiran saya, karena ternyata mereka yang ngobrol disekitar saya itu, tidak satupun yang pakai bahasa Indonesia. Semuanya, sekali lagi, semuanya pakai bahasa Inggris!

Kaget? Tidak, karena toh bahasa londo ini sudah masuk sejak bertahun-tahun lalu, dan sudah jadi bahasa internasional. Ndeso? hehehe! Nggak juga. Terus kenapa? Yaa karena tiba-tiba saya merasa aneh, merasa asing, padahal saya lagi di tanah Indonesia. Terus, muncul sebuah pemikiran di kepala saya, kenapa ya mereka kok nggak mau berbahasa Indonesia di negaranya sendiri, atau minimal pakai bahasa daerah masing-masing lah? Sori, saya bukan mau ngajak debat atau adu argumen, karena saya sih cuma mau share aja apa yang saya alami disini. Saya cuma tergelitik, kenapa? Apa bahasa kita segitu rendahnya, sehingga tidak bergengsi kalau ngomongnya ndak pake bahasa Inggris?

Pun ketika emsi acara Hello Kitty itu muncul dan mengajak anak-anak bermain, tidak satupun lagu anak-anak yang dibawakannya adalah lagu dolanan khas orang Indonesia. Semuanya lagu anak dari londo. Memang ini era globalisasi, tapi saya jadi miris, jadi mikir gimana nantinya masa depan generasi penerus kita, kalau ternyata sejak kecil mereka sudah dijauhkan dari bahasa dan budayanya sendiri? Terus terang saya jadi sedih. Bukan saya sok nasionalis sehingga anak saya nggak saya ajarin bahasa Inggris, toh anak saya pun juga alhamdulillah cukup mahir untuk anak seusianya yang baru empat tahun. Saya cuma khawatir, dan tentunya berharap, mudah-mudahan anak cucu nanti tidak malah jadi tamu di negeri sendiri, yang malah nggak tau apa-apa soal bahasa Indonesia, padahal dia lahir, tumbuh,dan berkembang di negeri tercinta ini. Ujung-ujungnya, saya juga inget lagunya Jamrud Asal British, hehehehe! Mungkin memang orang kita terlalu banyak gaul sama turis, sehingga biarpun bingung, yang penting ngomongnya yang Inggris-inggris, hahahahaha!!!

Jam Jreng...

Buat orang Jakarta, mungkin ini bukan hal baru lagi. Malah bisa-bisa yang nulis ini yang dicap ndeso hehehe! Tapi buat yang diluar Jakarta, dan selama ini jarang-jarang menikmati sebagian kemegahan ibukota negara, ini tentu luar biasa.

Jujur saya juga nggak nyangka, pas dapet rekaman video dari ortu di Jakarta, tentang sebuah jam besar di sebuah mal, yang ternyata juga menjadi ikon mal tersebut. Pas ada kesempatan kesana, saya lihat sendiri, betapa indah dan mewahnya jam itu. Kalo istilah anak saya, jam ini sebutannya adalah Jam Jreng, karena memang setiap jam, penunjuk waktu ini mempertunjukkan sebuah lagu klasik, yang saya sendiri nggak tau judulnya. Lingkaran jam itu membuka keatas, dan kemudian enam buah ornamen patung yang masing-masing memegang alat musik yang berbeda, mulai bergerak dan berputar, diiringi lagu klasik yang mengalun. Lagu ini sendiri nggak begitu lama, cuma sekitar tiga menitan, tapi waktu saya lihat ke sekeliling ketika jam itu berdentang, selalu saja banyak yang melihat. Bahkan mereka yang lagi berjalan-jalan pun, tidak segan untuk sekedar berhenti, dan menengok ke arah jam itu.

Saya memang belum punya informasi mendetil tentang pembuatan jam ini. Kapan dibuat, dan bagaimana pemeliharaannya, saya belum ada kabar, tapi mungkin ada diantara teman-teman yang tau, bisa juga bagi-bagi informasi. Yang jelas, meski orang kota sudah biasa dengan mal, tapi untuk yang satu ini, rasanya anda, terutama yang belum pernah melihatnya, harus menyempatkan diri untuk datang. Jam indah ini bisa anda jumpai di Plasa Senayan Jakarta. Dilihat dari letaknya, tentu anda tahu kalau plasa yang bersegmen menengah keatas ini, ada di kawasan Senayan, dekat dengan TVRI, atau hotel Century Park, tempat para atlet biasanya menginap kalau ada turnamen atau kejuaraan nasional. Kadang-kadang saya membayangkan, gimana seandainya Surabaya juga punya yang seperti ini. Mungkin tidak perlu sama, tapi yang penting membangun sebuah ikon, sebuah tanda atau tetenger yang membedakan antara tempat satu dengan lainnya, atau minimal mal satu dengan lainnya. Biarpun sama-sama mal, tapi kalau ada ciri khas seperti ini, orang kan jadi nggak bosen dengan suguhan yang itu-itu aja. Karena kalau di mal kan, yang dilihat kalau nggak orang jual busana, ya makanan dan bioskop, plus beberapa pernik lainnya. Betul?

Tuesday, June 24, 2008

Menjadi Kaya, Sugih, Rich, etc.

Sadar atau tidak, di zaman sekarang yang katanya lagi krisis ekonomi, dengan segala tetek-bengek dampaknya, angka kemiskinan menurut data Badan Pusat Statistik ada peningkatan, meskipun presentasenya masih terus dipertanyakan keakuratannya. Dengan kenaikan harga bengsin alias BBM, keluhan utama di masyarakat adalah makin tingginya harga barang kebutuhan, sebagai dampak berantai kenaikan harga produk turunan fosil hewan dan tanaman purba itu.

Nah, disaat seperti sekarang, saya jadi inget petuah dari ustadz. Beliau pernah bilang, berdasarkan sabda Nabi Muhammad, akan datang suatu masa, dimana orang akan menjadi terlalu cinta dunia, sehingga takut mati, dan akhirnya justru berlomba-lomba mengejar dunia. Artinya, orang sekarang lebih takut jatuh miskin daripada tidak beribadah. Sang ustadz yang saya dengar khotbahnya mencontohkan, dulu waktu Nabi Ibrahim mau meninggal dunia, yang justru ditanyakan pada sang malaikat pencabut nyawa, om Izrail, adalah apakah setelah ia meninggal nanti, anak istrinya akan tetap menyembah Allah. Pun ketika Nabi Muhammad SAW, yang menjadi teladan bagi umatnya, waktu ajal akan menjemput, justru mengkhawatirkan keselamatan umatnya.

Berbeda dengan sekarang, ketika akan meninggal dunia, seseorang justru lebih takut kalau nanti anak istrinya tidak ada yang ngopeni, ndak ada yang ngasih makan dan nafkah,dan ndak ada warisan yang bisa membuat hidup menjadi lebih tenang. Memang tidak semua seperti itu, tapi dari khotbah yang saya pernah dengar, kecenderungan sekarang bagi sebagian orang adalah yang seperti ini.

Contoh kecil yang barangkali bisa dilihat, coba main ke toko buku, dan lihat di bagian buku best seller dan buku tentang motivasi dan bisnis. Sebagian besar didominasi oleh buku-buku dengan judul bagaimana menjadi kaya, pensiun muda pensiun kaya, menjadi kaya dalam sekejap, bagaimana membuat uang mengejar anda, dan masih banyak lagi buku-buku berjudul sejenis. Saya tidak menjustifikasi semua buku itu salah, keliru, atau menyesatkan. Tapi dari pemikiran saya, bisa jadi para penulis buku-buku itu melihat, masyarakat sekarang cenderung untuk ingin menjadi kaya, memiliki harta banyak, untuk bisa memenuhi semua hasrat dan hajat hidupnya. Orang ingin punya mobil, rumah, yang mewah kalo bisa, dan simpanan miliaran di bank. Karena dengan begitu, selain semua kebutuhan terpenuhi, dia tidak akan lagi diremehkan, dan dipandang sebelah mata. Persis seperti orang perantauan dari desa, yang maunya pulang bawa motor atau mobil sendiri, sebagai tanda dia berhasil di perantauannya.

Sengaja saya tidak muat contoh judul buku tentang cara menjadi kaya yang saya sebut, karena saya yakin, anda bisa temukan sendiri buku-buku yang saya maksud. Begitu banyaknya judul buku seperti itu, sehingga membuat saya sendiri berpikir, akankah orang-orang yang ingin menjadi kaya dalam sekejap, bisa menjalankan berbagai tips yang ada? Karena saya pernah membaca bukunya om Safir Senduk, Siapa Bilang Karyawan Tidak Bisa Kaya? Toh disitu juga tertulis, kita harus pandai mengalokasi gaji, dan mengalihkannya untuk usaha yang lain, meskipun memang dalam skala kecil lebih dulu. Artinya, seperti yang pernah diiklankan sebuah produk rokok, Ingin Hidup Enak, Usaha!!! Ada sebuah perjuangan yang harus dilakukan, ada kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi, sebelum kita bisa meraih sebuah kesuksesan itu. Saya malah khawatir, mereka yang baca buku-buku soal cara menjadi kaya, terlalu besar berharap bisa akan menjadi kaya dengan sangat mudah, seperti orang pasang Porkas, SDSB, kode buntut, atau yang lain-lain, sampai-sampai datang ke dukun segala, seperti yang saya lihat di sebuah majalah mistik.

Grup musik Dewa juga punya lagu, Hidup Adalah Perjuangan. Segala sesuatu memang harus diperjuangkan dulu, dan yang penting, jangan sampai menyerah ketika menemui kegagalan. Well, mudah-mudahan mereka yang sangat ingin menjadi kaya, ditengah kesulitan ekonomi yang diderita masyarakat sekarang, akan bisa memahami esensi sebuah perjuangan, bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Dibalik tangis pasti ada tawa bahagia. Dan yang penting, jangan sampai melupakan Tuhan, Sang Pencipta yang sudah memberikan segala sesuatu untuk kita. Karena itu, ketika kita sedang terpuruk, justru Tuhan menyuruh hamba-Nya untuk melihat kebawah, supaya ada rasa syukur yang muncul, bukan sirik, iri, dengki, dan akhirnya malah nyantet orang yang lebih kaya, yang lebih tinggi jabatannya, hanya karena dia pengen mendapatkan yang seperti itu. Untuk urusan dunia, Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, lihatlah kebawah. Tapi untuk urusan ibadah, lihatlah keatas, supaya kita bisa belajar dari mereka yang ibadahnya kuat, supaya hati menjadi lebih tenang.

SELAMAT BERJUANG MENJADI KAYA!!

Sunday, June 15, 2008

Kenangan Itu

Yah, barangkali ini memang posting yang amat sangat terlambat sekali. Sudah hampir seminggu lewat sejak Suara Surabaya merayakan ultahnya yang ke-25. Sudah seperempat abad radio ini menemani publik Surabaya, dengan beragam informasinya, terutama lalu-lintas yang menjadi andalan sehari-hari, bahkan disaat tengah malam sekalipun.

Ini sekilas dari acara yang saya datangi kemarin. Sebagai mantan 'orang dalam', tentu saya sudah tidak asing lagi dengan teman-teman saya, mulai yang tua sampai yang muda, kecuali beberapa wajah baru yang belum sempat saya kenal sebelumnya. Yaa seharusnya kebersamaan seperti inilah yang memang ideal, bisa saling tertawa, saling berbagi, dan tentunya nggak ada rasa curiga, berprasangka yang aneh-aneh, atau malah ngajakin musuhan. Yah! Sebuah kondisi ideal yang mungkin nggak akan pernah terjadi, karena sebagai manusia, tentu yang namanya hubungan tidak akan pernah seharmonis yang diharapkan. Istilahnya tidak akan seindah di foto deh, meskipun vendor-vendor fotografi selalu mengklaim seindah warna aslinya. Yang jelas, aku cuma pengen share aja kenang-kenangan ini, pas di masa-masa pertamaku tidak lagi menjadi bagian dari mereka. Tapi aku selalu merasa, aku adalah bagian dari mereka, sebagai sahabat, sebagai teman, sebagai tempat curhat, atau yang lain-lain, asal itu bermanfaat (kalo ngutang jangan dulu deh, kan masih ada koperasi kantor? hahahaha!)

Met ultah deh buat SS, moga-moga di usia yang udah seperempat abad, yang kalo di usia manusia adalah usia yang dewasa dan udah kudu married, institusi ini tambah maju, makin oke, dan yang penting makin bisa bikin karyawan betah. Jangan lagi ada cerita tentang karyawan yang mendapat perlakuan berbeda, hanya karena yang satu bisa melobi dengan pendekatan pribadi, yang satu lagi tidak pernah berbasa-basi. Jadi pemimpin memang enak, apa-apa tinggal tunjuk, ada kesalahan tinggal evaluasi dan negur, tapi jangan sampai lupa, jadi pemimpin juga punya tanggungjawab memanusiakan manusia-manusia yang menggantungkan harapan di institusi itu. Seperti kata Rheinald Kazali, perlakukan karyawan sebagai aset, bukan sebagai benda yang suatu saat dibuang dan dicampakkan begitu saja. Semoga dimasa mendatang, tidak ada lagi informasi yang keluar, kalau ada karyawan yang udah melewati masa training, tapi sampai sekarang masih belum dapat libur. Ingat, kezaliman seperti itu, meski mungkin tidak terlaporkan ke Depnaker, tapi Allah Maha Tahu dan Maha Melihat. Kalau adzabNya yang datang, akan teramat pedih untuk dibayangkan.

Sunday, June 01, 2008

(Ngajak) Musuhan?

Hmmm...kadang-kadang lucu juga kalau kita sudah tidak lagi berpijak di suatu tempat, terus pada suatu ketika kita ingin tahu bagaimana kondisi atau perkembangan bekas tempat kita itu. Apalagi kalau ternyata masih cukup banyak cerita yang menyangkut diri kita disana, pasti deh pengen terus ngorek bawaannya.

Kayaknya itu juga yang terjadi padaku. Dulu aku memang produser sebuah acara talkshow, dan kalau dari survei terakhirnya AC Nielsen untuk wave 3 kalo nggak salah, acara yang aku pegang dapet rating cukup lumayan, dan segmen pendengarnya pun melebar, tidak melulu cowok, tapi juga cewek. Nah, setelah aku hengkang dari situ, jelas tu acara ndak ada yang ngurusi. Terakhir kabar yang aku denger, ternyata yang jadi korban alias yang ketiban pulung adalah mantan temen setimku sendiri.

Berhubung tu anak ngakunya ndak ngerti blas soal acara yang dipegangnya, dia banyak berkonsultasi dengan para seniorennya, termasuk salah satu penyiar senior disana, yang sekarang ogah jadi produser acara itu lagi. Nah, karena aku pernah pegang acara itu, dan lagi aku dianggep ngerti banyak dan bisa membantu, akhirnya telponlah si kawan ini untuk bertanya ini-itu, dan share soal masalah yang dihadapinya. Karena teman sendiri, dan demi Allah aku ndak punya maksud tertentu, ya udah kubantu aja. Toh aku juga pengen acara yang dulu aku pegang, bakal tetap eksis dan ratingnya makin tinggi.

Sesudah itu, beberapa waktu kemudian, ternyata ni temen telpon lagi, dengan maksud dan tujuan yang sama. Aku sih ya sebatas hanya kasih usulan dan masukan aja, yang kira-kira pas. Ndak dipake pun aku samasekali ndak masalah. Nah, disaat itulah tiba-tiba kawan satu ini cerita, kalo bosnya melarang dia untuk kontak-kontak denganku lagi. Terus terang aku kaget aja denger pengakuannya. "Yang bener?" aku sampai bertanya gitu untuk meyakinkan, dan sekali lagi sang kawan membenarkannya.

Waktu aku tanya apa alasannya, temenku ini ndak bisa menjelaskan detil, karena si bos hanya minta, pokoknya kalo mau konsultasi, tanya-tanya aja sama yang didalem. Haram tanya sama orang luar, terutama aku.

Yaa it's ok kok, kalo aku dianggep musuh sama tu bos. Aku toh SAMASEKALI NDAK NGEMIS DAN MINTA MAKAN SAMA DIA!!!!! Jadi ngapain dipikirin? Aku sih cuma heran, kalo dia yang dihasut pendengarnya, malah ditanggepi dengan serius, mana pake dibawa-bawa di udara lagi. Nah, si bos(sok) ini ternyata dapet laporan ABS dari salah satu penyiar senior disitu, yang dulu adalah konco SMPnya. Wah, pokoknya setali tiga uang deh mereka!

Aku jadi kasihan sama temenku ini, dan teman-temanku yang masih didalam sana. Kapan ya mereka bisa dapet perlakuan yang lebih baik? Karena cukup banyak yang udah sambat, udah ngeluh karena tiap kali prestasi kerja mereka tidak pernah dihargai. Dalam forum rapat selalu saja yang dibahas adalah penurunan jumlah pendengar, penurunan margin keuntungan, dan masih banyak keburukan lainnya. Tidak pernah sekalipun ada pujian soal prestasi kerja karyawannya. Sebetulnya seperti yang pernah dbilang Rhenald Kazali sang pakar manajemen UI, untuk bisa memotivasi semangat para staf, salah satunya bisa dengan selebrasi kecil-kecilan. Bisa dengan pujian, ngajak makan-makan, atau reward lain. Tapi disitu? Punishment melulu yang dibahas..

Buat temen-temenku yang masih (rela?) bertahan disana, semoga Allah melindungi dan memberkahi kalian semua. Dan mengampuni dosa-dosa kalian, termasuk para sengkuni yang sudah bikin kondisi kalian makin ndak karuan, dan para pimpinannya yang ndak tau diri. Doaku selalu buat kalian friends.....

Tuesday, May 27, 2008

MELILEA GREENFIELD ORGANIC DAN SUSU KEDELAI BUBUK

Dear friends,

Saya juga mau numpang ngiklanin produk yang saya jual, di web ini, mumpung gratis dan ini kan rumah sendiri, hehehehe!!

Pastinya udah pada tau Melilea kan? Yup! Sebuah brand yang juga sudah mendapat berbagai penghargaan internasional karena mutu dan khasiatnya yang sudah diakui. Nah, yang mau saya tawarin ada dua macem:

Yang pertama, ya seperti gambar disamping ini, namanya Greendfield Organic, yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti biji-bijian (gandum, beras, jagung, dan barley), dan juga ekstrak bahan-bahan alami lainnya termasuk wortel, seledri, dan oat bran. Greenfield Organic berfungsi menjaga kesehatan, khususnya pencernaan, dan sangat baik untuk teman-teman yang ingin mengurangi berat badan, tanpa harus kehilangan nutrisi yang penting untuk tubuh. Cara mengonsumsinya cukup mudah, satu sendok takar Greenfield Organic dilarutkan dalam 250 cc air, boleh air putih (kalo suka rasanya yang hambar) atau bisa dicampur jus jeruk kesukaan masing-masing. Oya, kalau sudah beberapa hari mengonsumsi Greenfield Organic, dan teman-teman merasa seperti meriang atau tidak enak badan, tidak perlu panik, karena itu adalah reaksi tubuh yang menyesuaikan diri akibat racun-racun dan zat-zat yang tidak berguna dalam tubuh berhasil dikeluarkan dengan bantuan Greenfield Organic.

Berikutnya yang saya mau informasikan ke teman-teman adalah Susu Bubuk Kedelai, masih dari produk Melilea seperti gambar disamping kanan ini.

Susu bubuk kedelai Melilea terbuat dari kedelai organik, yang ditanam khusus di tanah hitam yang subur di Heilongjiang, di timur laut Cina. Selain orang dewasa, anak-anak juga bisa mengonsumsi susuk kedelai bubuk ini. Sepupu saya sudah membuktikannya. Dia punya anak kembar yang sekarang berusia 3 tahun. Karena tidak cocok dengan susu formula atau susu sapi, dia berkonsultasi dengan dokter, dan dianjurkan mengonsumsi susu kedelai. Alhamdulillah, kedua anak sepupu saya cocok dengan produk Melilea ini. Cara mengosnumsinya juga cukup mudah, tinggal larutkan 3-4 sendok makan susu kedelai bubuk Melilea kedalam segelas air hangat atau dingin, aduk, dan siap untuk dikonsumsi.

Kalau teman-teman ada yang kurang jelas, atau ingin bertanya lebih lanjut, monggo kontak saya Yuki, di 08165431630 kapanpun teman-teman sempet. Atau kalau pas lagi jalan-jalan, bisa juga mampir ke stand Avione Kosmetik milik mertua saya, di Jl. Ahmad Yani 183. Bisa tanya-tanya sama mertua saya, ibu Sustiati, atau dengan saudari Meidya Suci. Kontak-kontak dulu juga bisa, di 03160646410. Semoga bermanfaat ya teman-teman, dan thanks buat perhatiannya.

Saturday, May 24, 2008

Sebuah Teladan Yang (Masih Sangat Sulit) Diteladani

Kisah ini saya dapat dari khotbah beberapa pemuka agama (Islam), tentang sosok seorang khalifah, atau kalau zaman sekarang identik dengan pemimpin suatu kaum atau bangsa. Yang beragama Islam tentu sudah tidak asing lagi dengan nama Umar bin Khattab, atau mungkin juga disebut sebagai Sayyidina Umar. Mohon maaf kalau saya keliru menulis, karena ini berdasarkan ingatan, dan sebuah inspirasi yang tiba-tiba muncul, terutama pasca menyimak sehari penuh berbagai informasi seputar dampak naiknya harga Bahan Bakar Minyak.

Pada suatu ketika, Khalifah Umar bin Khattab sedang berjalan keluar malam-malam sendirian. Beliau memang punya sebuah kebiasaan kluyuran malam-malam, untuk melihat sendiri apakah rakyatnya sudah bisa tidur dengan nyenyak, atau mungkin masih ada yang kelaparan sehingga belum bisa tidur. Umar berjalan seorang diri, tanpa teman, tanpa pengawal, apalagi ajudan, dan tidak dengan ramai-ramai dan hiruk-pikuk layaknya seorang pemimpin yang mau bersafari ke daerah.

Ketika sedang asyik berjalan, sambil mengamati rumah-rumah penduduk, tiba-tiba Umar mendengar ada suara anak kecil menangis, dan suara ibunya yang berusaha membujuk supaya sang anak menghentikan tangisnya. Kata sang ibu, "Sebentar ya nak, sebentar lagi matang kok. Tidurlah engkau sampai nanti kubangunkan."

Sang anak rupanya sudah tidak tahan lagi dengan lapar yang dirasakannya. Ia terus saja menangis, bahkan semakin keras. Sang ibu sudah sangat panik, bingung tidak tahu lagi harus berbuat apa, sementara dia sendiri tidak punya uang sepeserpun, untuk dibelikan bahan makanan, demi mengenyangkan buah hati tercintanya.

Saat itulah terdengar pintu diketuk, dan tampak sosok Umar bin Khattab, yang ternyata tidak dikenali oleh ibu itu. Ini juga karena Umar selalu menyamar, setiap kali akan berpatroli seperti yang sekarang sedang dilakukannya.

"Maaf ibu, saya tadi mendengar suara anak menangis. Anak ibukah itu?" tanya Umar. Sang ibu menjawab, "Iya benar Pak. Anak saya ini lapar, tapi saya tidak punya uang untuk membeli bahan makanan."

Khalifah Umar terkejut, "Terus yang saya dengar tadi ibu mengatakan, sebentar lagi matang, itu apa bu?"

Dengan tersipu malu, sang ibu menjawab, "Itu hanya sebuah batu. Saya tahu batu tidak akan pernah bisa dimakan, tapi hanya ini cara yang bisa saya gunakan, supaya saya bisa menenangkan anak saya. Andai saja khalifah Umar ada disini, saya akan mencakar-cakar wajahnya, karena dia sudah tega menyengsarakan rakyatnya!"

Mendengar itu, Umar bin Khattab langsung mohon diri, dan langsung pulang menuju kediamannya. Umar langsung menuju ke gudang tempat penyimpanan makanan, dan langsung diambilnya sebuah karung berisi bahan makanan yang paling besar. Karung itu kemudian diangkatnya, dan dipikulnya sendiri, untuk dibawa keluar kembali menuju rumah sang ibu yang malang itu. Beberapa ajudan Umar, begitu mengetahui bosnya mikul beras sendirian, langsung menawarkan bantuan untuk mengangkatnya. Tapi dengan tegas Umar justru berkata, "Kalau kalian mau memikulkan karung ini, apakah berarti kalian mau memikul juga dosa-dosaku? Biar aku yang membawanya, karena aku merasa berdosa, telah menelantarkan rakyatku, sampai-sampai dia harus membohongi anaknya yang menangis kelaparan, karena tidak punya uang untuk membeli makanan."

Para ajudan itu tertegun, tidak bisa berkata apa-apa, tapi tidak sedikit diantara mereka yang juga menitikkan air mata, melihat kearifan pemimpin mereka itu. Umar bin Khattab kemudian memikul karung bahan makanan itu sendirian, ketempat sang ibu yang tadi merebus batu itu. Jarak antara kediamannya dengan rumah sang ibu cukup jauh. Tapi karena tekadnya sudah bulat, tidak ingin menyengsarakan rakyatnya, bahkan barang seorangpun, Umar memikul karung itu, dan berjalan tanpa kenal lelah.

Sesampainya dirumah ibu yang malang itu, Umar kembali mengetuk pintu. Ibu itu sangat terkejut, melihat Umar kembali datang, kali ini membawa karung besar berisi bahan makanan. Sambil terisak ibu itu berkata, "Alhamdulillah tuan, anda sudah sangat berbaik hati kepada saya. Semoga Allah membalas kebaikan tuan dengan balasan yang berlipat ganda. Tapi, siapakah tuan ini sebenarnya?"

Ketika Umar menyebut namanya, ibu ini tersentak dan langsung bersujud dihadapan sang Khalifah. Dia minta maaf karena pada pertemuan sebelumnya, sempat mencela sang Khalifah. Tapi Umar bin Khattab justru memegang tangan sang ibu, dan membantunya untuk berdiri. Umar kemudian berkata, "Justru seharusnya sayalah yang bersujud pada ibu, karena ibu sudah menyadarkan saya, bahwa tidak ada gunanya kekuasaan yang saya miliki, kalau rakyat saya ternyata masih ada yang sengsara seperti ini. Sungguh Allah sudah memberi hidayah kepada saya melalui ibu. Terimakasih..."

Friday, May 23, 2008

JANJI-JANJI TINGGAL JANJI

7 November lalu, sesudah melantik Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Susilo Bambang Yudhoyono Presiden Indonesia menegaskan dengan suara yang cukup lantang, pemerintah tidak akan mengambil opsi menaikkan harga BBM, alias bahan bakar minyak di tahun 2008. Alasannya, dengan kondisi harga minyak dunia yang melambung tinggi, negara justru diuntungkan dengan penerimaan ekspor migas, yang juga ikut terkerek naik. Kalau bahasa kerennya, negara dapat windfall dari kenaikan harga ekspor minyak dan gas bumi.

Waktu terus berganti, dan akhirnya tibalah negeri yang konon katanya gemah ripah loh jinawi ini, di bulan Mei 2008, persisnya tanggal 23 jam 21.30 Waktu Indonesia Barat. Justru di saat inilah, apa yang selama ini ditakutkan masyarakat terbukti. Sepuluh menteri yang hadir di gedung Departemen Keuangan, mengumumkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak, yang enam bulan lalu, justru ditentang oleh Presiden sendiri. Harga Bengsin alias Premium, naik dari 4500 perliter, menjadi 6000 Rupiah perliternya. Solar alias Diesel Oil, naik dari 4300, menjadi 5500 Rupiah perliter. Sementara minyak tanah, atau lengo gas, naik dari 2000, menjadi 2500 Rupiah seliternya.

Pengumuman kenaikan ini, sangat jelas MENYAKITKAN hati masyarakat, terutama mereka yang tingkat kemakmurannya masih jauh dibawah, alias masih miskin. Apalagi masih jelas terngiang, bahwa pemerintah sudah menyatakan tidak akan menaikkan harga BBM sampai 2009. Jadi lepas dari itu, wallahualam bishawab. Tapi yang terjadi sekarang, justru disaat masih segar dalam ingatan kita, apa yang dinyatakan oleh pemerintah, yang kalau kata orang Surabaya cangkem iki dhurung mingkem, ternyata mereka yang ada di kursi pemerintahan itu, justru menaikkan harga kebutuhan yang menjadi tulang punggung sarana transportasi orang-orang untuk beraktivitas, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin lama semakin mencekik.

Aksi unjuk rasa yang dilakukan kawan-kawan mahasiswa, mulai dari yang damai sampai yang keras dan bentrok dengan petugas, ternyata tidak mampu membuat menteri-menteri yang konon katanya berkompeten, untuk mencari jalan alternatif supaya kenaikan harga BBM tidak naik, seperti yang dijanjikan bos mereka 7 November 2007. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, ternyata si bos dan kacung-kacungnya itu MBIDHEK, KOPOK, TULI, TOREK, COROK, DUBLEG, CONGEKAN, dan lain sebagainya. Samasekali tidak ada kepedulian tentang efek berantai atau multiplier effect akibat kenaikan harga BBM. Bahkan sampai ada yang rela mogok makan, demi supaya suara mahasiswa, yang juga merupakan aspirasi masyarakat, akan bisa meluluhkan hati para penggedhe yang sudah kadung jadi batu karang. Tidak cuma di Surabaya, Jakarta dan beberapa kota lain juga ada yang menggelar aksi mogok makan, supaya pemerintah tidak jadi menaikkan harga BBM. Berhasil? TIDAK!! Karena sekarang harga BBM sudah naik.

Meski begitu, ternyata para mahasiswa tidak mau menyerah. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan sebuah stasiun televisi swasta, sebagian mereka ada yang berjanji, akan ada aksi yang sama persis dengan Reformasi 1998, kalau pemerintah benar-benar menaikkan harga BBM. So, tunggu saja, apakah niatan seperti itu akan bisa jadi kenyataan. Karena akibat pengumuman yang dilakukan Sri Mulyani Indrawati Menteri Keuangan, yang sekaligus bertindak sebagai jurubicara para menteri itu, sebagian masyarakat Indonesia langsung menyerbu SPBU, karena tidak terima dengan harga baru yang akan diterapkan. Bukan cuma kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, bahkan Medan dan Makassar pun juga dipenuhi antrian pembeli bensin, yang masih ingin merasakan sisa-sisa perjuangan aspirasi mereka yang gagal itu. Celakanya, ada kemungkinan aksi demo mahasiswa menentang kenaikan harga BBM, akan kembali menjadi aksi berdarah seperti Mei 1998, sesudah ada pernyataan dari Joko Susilo Utomo Pangdam VII Wirabuana, aparat akan menggunakan peluru tajam, kalau aksi mahasiswa makin besar. Ada satu pernyataan lagi yang muncul dari Syamsir Siregar Kepala Badan Intelejen Negara. Dia menuding aksi-aksi mahasiswa menentang kenaikan harga BBM itu, ditunggangi oleh mantan menteri. Pernyataan itu langsung dibalas oleh mahasiswa. Mereka menjelaskan, wong untuk gerakan ini saja mereka harus urunan, harus saweran, lha kok malah dituding ditunggangi....

Saya kutip dari Tempo Interaktif, malam ini 20 mahasiswa dari Front Perjuangan Rakyat, bergerak ke Istana Negara, untuk mendesak pemerintah membatalkan keputusan kenaikan harga BBM. Berhasilkah mereka? Atau akankan ada demo berdarah lagi seperti 10 tahun lalu, yang berakibat tewasnya beberapa mahasiswa? Hmmm.....

Kalau review lagi tentang janji-janji SBY dan JK waktu kampanye, akan ada perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi dari sebuah wawancara yang saya dengar dari salah satu radio Jakarta, H.S. Dilon seorang ekonom mengatakan, kebijakan Presiden dan Wakilnya saat ini, samasekali tidak membumi, dan tidak mencerminkan fungsi pemerintah sebagai pengayom rakyat. Menurut Dilon, pemerintah samasekali tidak mau memikul tanggungjawabnya dengan beban seperti sekarang, dan lebih memilih menyerahkan semuanya kepada rakyat. Jadi, yang namanya janji dan pernyataan tidak akan ada kenaikan harga BBM, hanya sebuah JANJI KOSONG BUAIAN PERADUAN BELAKA!!!! Dilon bahkan menyarankan, gaji-gaji mereka yang jadi penggedhe itu harus diturunkan, supaya mereka juga merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat.

Beragam pendapat dan usulan sudah disampaikan para pakar, mulai ekonom sampai pengamat sosial. Sebagian besar mereka menentang kenaikan harga BBM, yang akan membawa dampak berantai yang sangat menakutkan bagi masyarakat, terutama mereka yang menengah kebawah. Memang seringkali kita dengar, kalau ada kata-kata masyarakat, selalu ada pertanyaan masyarakat yang mana? Sungguh itu adalah pertanyaan MAHABODOH yang tidak berperikemanusiaan. Kalau ada yang bertanya seperti itu, berarti orang ini tidak pernah nonton tivi, denger radio, atau baca koran dan majalah berita. Oya ada lagi. Begitu para wartawan mulai kasak-kusuk untuk konfirmasi pernyataa Presiden 7 November lalu, tidak akan ada kenaikan harga BBM, karena itu bukan opsi yang diambil pemerintah, Hatta Radjasa Menteri Sekretaris Negara langsung membantah dengan mengatakan, "Presiden tidak pernah menyatakan berjanji tidak akan menaikkan harga BBM. Jadi marilah kita beretika dalam berpolitik...." Lha terus, pernyataan Presiden kalau tidak ada opsi kenaikan harga BBM tahun 2008, apa itu bukan janji? Atau karena yang ngomong cuma Presiden, dianggap itu bukan suara pemerintah? Well, itulah pernyataan yang muncul dari seorang mantan Menhub gagal, yang pernah dengan konyolnya latah menyatakan pesawat Adam Air yang jatuh di Majene 1 Januari tahun lalu sudah ketemu, padahal itu cuma kabar burung, hehehe!

Sementara kalau melihat kompensasi yang akan diberikan ke masyarakat bawah, ternyata juga masih berupa Bantuan Langsung Tunai alias BLT. Padahal sudah banyak masukan dari para pakar, sebaiknya jangan diberikan bantuan langsung seperti itu, karena hanya akan membuat masyarakat terdidik untuk mengemis. Tapi lagi-lagi, program yang pernah sukses memunculkan orang-orang miskin baru itu, kembali dimunculkan. Rencananya 24 Mei atau hari Sabtu ini, BLT akan dibagikan di kantor pos. Padahal, program ini ditolak beberapa wilayah seperti Bandung dan sekitarnya, dengan alasan apapun. Memang ada sebuah ironi, bahwa ternyata data jumlah orang miskin di Badan Pusat Statistik, Depkes, dan Dinas Kependudukan, berbeda-beda. Tapi penolakan sudah muncul, meski akhirnya toh mau tidak mau harus jalan juga, karena keputusan sudah diumumkan.

Terlepas dari program-program yang sudah dicanangkan, entah berhasil entah tidak, yang jelas, kenaikan harga BBM ini sudah membuktikan, pemerintah hanya bisa berjanji, tanpa bisa menepatinya. Kalau kata Betharia Sonata, Janji-janji tinggal janji, bulan madu hanya mimpi, janji-janji tinggal janji di bibirmu........

Wednesday, May 21, 2008

Apanya Yang Bangkit?

20 Mei 2 hari lalu, bangsa ini menghadapi sebuah momen yang konon katanya teramat penting, karena dinilai menjadi tonggak kebangkitan dari sebuah keterpurukan yang berkepanjangan. Bahkan Presiden kita dengan pede mencanangkan Indonesia Bisa. Sebuah jargon yang mungkin menandakan optimisme dalam membangun negeri ini, termasuk bangkit dari keterpurukan. Maunya sih, kalau dari asumsi saya, dengan jargon itu, kita diharapkan punya semangat juang yang lebih tinggi lagi, untuk bisa membangkitkan bangsa yang sebetulnya layak jadi salah satu macan Asia bahkan dunia ini, dengan berbagai cara.

Itu peringatan 2 hari lalu, yang ternyata juga dalam perjalanan menuju 20 Mei, ditandai juga dengan kabar duka, ketika aktor sekaligus politisi kenamaan Sophan Sophiaan, harus mengakhiri perjalanan hidupnya sesudah terjungkal dari motor Harley Davidsonnya, akibat melindas sebuah lubang yang cukup dalam. Tapi kalau kita melihat, perjalanan menuju akhir bulan ini, ternyata justru aksi-aksi keras dari teman-teman mahasiswalah yang kerap mewarnai pemberitaan di media massa. Bentrok di Serang, rusuh di beberapa kota lain, bahkan Surabaya pun juga tidak luput dari unjuk rasa, menentang upaya pemerintah menaikkan harga BBM, alias Bahan Bakar Minyak, yang karena sering naik, oleh sebagian kalangan kita yang dari Jawa, diplesetkan menjadi Bolak-Balik Mundhak.

Waktu gonjang-ganjing harga BBM mau naik, Jusuf Kalla sang Wakil Presiden, yang sempat diplesetkan jadi Kollo oleh bang Amien Rais dalam beberapa statementnya, dengan pedenya menegaskan, pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM, sekalipun harga minyak dunia sudah melonjak bahkan sampai 100 Dollar per barel sekalipun. Oke, itu janji waktu harga minyak masih belum segitu. Tapi sekarang? Harga minyak sudah mendekati 130 dolar, bahkan ada prediksi akan melonjak menjadi 200 dolar per barel, dalam kisaran sampai akhir tahun ini. What and the kawat???? Akhirnya sang Wapres pun menelan lagi ludahnya yang sudah terlanjur dibuang itu (iihhh...emang enak???) dan malah kali ini kembali mengeluarkan statement yang sama, persis waktu BBM mau naik dulu, dari 2500 menjadi 4500. Dengan entengnya, saudagar kita satu ini berkata, "Jangan biarkan orang-orang kaya menikmati subsidi untuk BBM!"

Memang, ada sebagian orang kaya kita yang berlagak miskin. Punya rumah supermewah di Cibubur, atau di kawasan Ciputra dan Pakuwon misalnya, tapi ternyata untuk kebutuhan BBM sehari-hari, mereka lebih mengandalkan Premium alias BENGSIN, maaf, Bensin, yang itu disubsidi pemerintah. Alasannya sih, dari beberapa komentar yang pernah saya baca, wong ndak ngelitik kok, ngapain juga harus ngisi Pertamax atau Pertamax Plus, ataupun kalau di Jakarta, ngapain ngisi pake Petronas atau Shell? Apalagi ada sebuah bengkel di Jakarta, yang dengan pedenya mengiklankan jasa turun mesinnya, yang bisa membuat mobil berbahan-bakar Pertamax, bisa lebih bertenaga meski minumnya Premium. Tapi berapa gelintir sih orang kaya yang ASU seperti itu? Kalau ternyata pemerintah menaikkan harga BBM, katanya demi membela rakyat kecil, terus membelanya seperti apa?

Dari beberapa langkah yang sudah menyebar ke media massa, langkah menaikkan harga BBM konon bisa menghemat anggaran sampai beberapa belas triliun Rupiah, yang nantinya akan digunakan untuk beberapa hal, seperti beras untuk masyarakat miskin, dan juga Bantuan Langsung Tunai, yang dulu pas BBM pertama kali naik gila-gilaan pernah diterapkan, dan hasilnya? Banyak orang yang sukses ngaku MLARAT, padahal mereka bisa ngridit sepedamotor baru. Tapi ternyata, bahkan pemerintah pun tidak belajar dari pepatah, Keledai Tidak Akan Pernah Jatuh Pada Lubang Yang Sama Untuk Kedua Kalinya.

Apakah pemerintah lebih bodoh dari keledai? Silakan nilai sendiri. Tapi yang jelas, saya kagum sekaligus prihatin, dengan ketidakpedulian para penggedhe disana, yang seakan-akan tidak melihat realita yang ada, kalau kemudian BBM akan naik lagi. Padahal Agung Laksono Ketua DPR pernah bilang, kalo mau naikkan mbok ya liat-liat dulu langkah alternatif lainnya. Tapi rupanya pemerintah udah buntu ubun-ubunnya. Tadi malam saya liat berita, Sri Mulyani Menteri Keuangan dengan pedenya mengucapkan 28,7 persen untuk kenaikan harga BBM. Sementara kegagalan penyaluran BLT dulu, tidak menjadi pelajaran untuk dicarikan langkah lainnya yang lebih tepat. Jadinya, kasihan para mahasiswa yang sekarang sedang demo dimana-mana. Mereka sudah capek meneriakkan aspirasi rakyat, tapi yang diteriaki DUBLEG, TULI, TOREK, dan lain-lain yang mungkin bisa jadi sangat tidak pantas untuk ditulis saking pedesnya. Kalo dipikir-pikir, kok lebih peduli mahasiswa ya daripada pemerintah? Padahal pemerintahan itu kan dibuat untuk mengayomi masyarakatnya. Okelah mungkin tidak perlu pake subsidi BBM, tapi kalau memang ada cara lain, kenapa harus dengan cara itu? Kesannya, pemerintah hanya diisi orang-orang bodoh, yang hanya tahu menaikkan harga, tanpa mau berpikir adakah cara lain yang lebih bijak.

Prihatin, jengkel, marah, sedih, campur baurlah pokoknya. Karena apapun, toh ternyata pemerintah nekat juga akan menaikkan harga. Apa ya ndak mikir? Harga-harga itu pasti nunut kenaikan harga BBM, meskipun itu baru sebatas isu. Wong juragan bengkel cuci mobil langganan saya saja, dengan pedenya sudah mencanangkan, ongkos cuci mobil per 1 Juni naik jadi 30 ribu, dari yang awalnya 25 ribu. Alasannya, harga minyak naik, pasti semuanya naik. Kalo harga BBM ndak jadi naik? "Saya tetap naikkan harga," kata si empunya bengkel dengan pedenya. Alasannya sih, dengan harga minyak dunia yang sudah ngujubile seperti sekarang, sudah nggak mungkin lagi pemerintah mau ngempet untuk tidak menaikkan harga. Tapi bagaimana dengan efek berantainya? Sudahkah itu terpikirkan? Kok saya jadi nangkep pemerintah maunya yang praktis-praktis saja, instan kayak bikin mi instan, atau kayak makanan siap saji.

Ahhh....saya cuma bisa ngecap disini, tapi mudah-mudahan saya punya cara lain untuk bisa membantu menyuarakan apa yang seharusnya diperhatikan oleh mereka, yang duduk di kursi empuk di pemerintahan sana. BLT belum beres, kemungkinan penimbunan dan penyelundupan juga sangat besar, udah dipikirin tuh yang kayak gitu? BBM alternatifnya gimana? Apa cara memberdayakan masyarakat, yang juga banyak jadi korban outsorcing akibat terlalu nuruti Paman Sam yang Mother Fucker itu? UDAH DIPIKIR BELUM CUK!!!???????

Thursday, May 15, 2008

Artis Itu Bisa (dibooking)?

Kalo liat judul diatas, tentu ada dua pemikiran yang muncul. Pertama, itu wajar, karena kalau tidak ada yang ngebooking, terus apa gunanya dia jadi artis? Mau kelas penyanyi, presenter, atau bahkan pelawak sekalipun. Coba kalau dia nggak ada yang ngontrak, mana bisa jadi kaya seperti yang teman-teman bisa lihat sekarang? Iya to? Tapi kalau kita ke pemikiran kedua, pasti deh unsurnya negatif. Booking yang dimaksud, jelas bernada kamar hotel berbintang, dan musik yang terputar disana jelas hanya dua nada, ah dan uh...

Nah, kalau yang kedua, kayaknya udah jadi rahasia umum kali ya? Beberapa temen ada yang pernah bilang, dia bisa booking artis tertentu untuk memuaskan nafsu birahinya yang kayak kebo itu, dengan beberapa juta saja. Malah tadi pagi pas lagi ngobrol-ngobrol sama temen yang lagi dateng kerumah, dia sempet cerita kalo temennya yang kebetulan bos sebuah jasa transportasi, pernah main "kuda lumping" dengan seorang presenter yang udah tenar, udah terkenal, dan jelas karena artis, bodinya pasti terjaga baik alias sexy gitu looh!! Ceritanya, pas dia lagi main kerumah tu temen, sang adik ngajak jemput kakaknya ke sebuah hotel bintang lima di Surabaya ini. Dasar temenku ini polos, dan pikirannya cuma makan, langsung pikirannya tertuju pada menu paling enak di hotel itu. Pas sampai disana dan naik ke kamar yang dibooking sang kakak, pas diketuk, tau-tau yang buka si presenter itu. Temenku dan konconya cuma bisa ketenggengen (what is the meaning of ketenggengen? hehehe!) karena nggak nyangka yang bukain pintu adalah seleb yang sehari-hari cuma bisa diliat di tipi.

Pas si artis ini kemudian berlalu, sang kakak yang juga temennya temenku ini kemudian bilang, "Sing mau iku larang cuk! 14 juta! Iku gak termasuk akomodasi pesawat dan hotel."

BUJUBUSEETTT!!!

Dan karena si bos satu ini bergelimang uang dari hasil usahanya, dan lagi umurnya masih kisaran pertengahan 20-an, plus masih bujangan, jadinya yaaa gitu deh...bingung mo dikemanain tu duit segitu banyak. Trus dia cerita lagi soal pengalamannya bermain ah uh ah uh dengan artis yang fotomodel atau bintang sinetron atau presenter acara. Katanya, kalo sekelas artis yang itu tuh, yang terkenal karena bodinya yang bohai dan suka dipamerin kemana-mana tuh, itu tarifnya 8 juta bersih, diluar akomodasi dan sebagainya. Tapi tarif segitu untuk all nite long. Sengaja saya nggak nyebutin nama artisnya. Ngapain? Kan mereka udah ngetop. Nanti saya sebutin, makin ngetop dong mereka... hehehehe!!

Dan karena dapet cerita itu, saya jadi bertanya-tanya, kalo gitu, buat mereka yang suka dibooking dalam arti negatif itu, gimana ya rasanya bergelimang harta tapi dari hasil jual diri? Kaya sih jelas, karena kan tarifnya lumayan mahal, apalagi kalo dibandingkan kelas Dolly yang cuma paling banter 300 ribu udah dapet yang top markotop. Padahal kalo didepan media, wah ngomongnya kelas tinggi dan kesannya alim dan suci banget. Ahh...sebuah topeng berbalut kemewahan yang selalu jadi dambaan, ternyata butuh mental yang kuat untuk bisa memakainya. Kalau tidak, bersiaplah untuk terjun ke jurang hitam kelam nan dalam.....

Sunday, May 11, 2008

Hobi

Apa hobi kalian? Membaca? Menulis? Jalan-jalan? Atau lainnya?

Apapun, hobi itu pasti yang paling disukai untuk dilakukan, dan pasti nggak ada matinya untuk terus dilakukan. Nah, kebetulan sejak kecil saya itu paling hobi sama yang namanya musik. Nggak cuma dengerin, bahkan sudah sampai pada taraf pemain, yang istilah kerennya musisi.

Dari umur 4 tahun, kalo cerita dari nenek saya, yang namanya organ alias keyboard yang portabel alias bisa dibawa kemana-mana, udah bisa saya mainkan dengan baik dan benar. Bahkan, karena kebetulan mbah saya itu lain keyakinan dengan saya, saya malah sering ngiringi mbah dan ibu saya menyanyi lagu gereja, terutama yang judulnya Malam Kudus itu. Pokoknya, anak keyboard banget.

Memang sih, yang namanya darah seni udah mengalir begitu saja dari kedua orangtua. Keluarga bapak saya dulu, langganan juara vokal grup di Jawa Barat. Giliran keluarga ibu saya, ternyata juga punya banyak prestasi di bidang musik. Ibu saya bahkan sering didhapuk untuk nyanyi, kalau di kantor dinas bapak lagi punya gawe.

Nah, begitu beranjak gede, yang namanya keyboard itu rupanya mulai tidak menarik buat saya. Entah kenapa, saya mulai jadi malas menyentuhnya lagi, biarpun kalau dimintain main juga insya Allah masih lumayan bisa. Perhatian saya mulai beralih ke gitar. Bukan kerennya yang saya kejar, termasuk juga saya nggak seperti anak-anak lain yang belajar gitar dengan sangat nggethu alias ngototnya, sampai-sampai meniru permainan maestro gitar dunia, lewat DVD bajakan atau asli, yang bisa dibelinya. Niat saya dulu belajar gitar, karena ya tertarik aja sih waktu itu. Pengen bisa main, yaa minimal kayak Billie Joe Armstrongnya Green Day lah, yang biarpun cuma bisa kord 3 jurus (C,G,F) tapi bisa bikin lagu-lagu yang handal dan sukses.

Begitu udah mulai bisa genjrang-genjreng, dengan bantuan bapak saya dulu yang bikinin posisi-posisi jarinya, saya mulai mengembangkan diri sendiri. Nyoba nyari temen-temen yang memang pinter main gitar, supaya ilmu saya nggak cuma 3 jurus itu, tapi bisa jurus-jurus lainnya. Pas SMA, saya kebetulan mulai punya band yang bawain lagu-lagunya Whizzkid, dan sudah mulai kenal lagu-lagunya Helloween, biarpun waktu itu yang dibawain cuma A Tale That Wasn't Right melulu. Pas tau ada temen lain kelas, yang juga sama-sama punya band di sekolah, dan ternyata gitarannya sangat handal, saya mulai mendekatinya, dengan maksud belajar dikit-dikit. Eeh, ternyata si temen ini malah (sok) merendah, dengan mengatakan dia samasekali nggak bisa kalo disuruh ngajari. Penasaran, saya tanya ke temen-temen deketnya, eh ternyata jawaban yang diberikan rada beda. Kalo disuruh main trus kita pelototin, dia nggak bakal mau. Tapi coba deh tinggal aja sendirian, nanti pasti main-main sendiri.

Sebel karena nggak diajarin, muncul dendam dalam diri saya, bukan untuk ngamplengi dia, tapi untuk berusaha gimana caranya, saya kudu bisa bermain secepat jari-jarinya. Waktu itu temen saya udah bisa mainin lagu-lagunya Mr. Big seperti Green Tinted Sixties Mind yang ada tappingnya itu, belum lagi hi speed picking di lagu Daddy Brother Lover Little Boy. Wah, saya mati-matian belajar sendiri waktu itu. Pas lagi ada duit, biarpun pas-pasan, sempet juga belajar di Mayura, sekedar nyari tau teknik yang bener. Pas udah dapet, mulai deh pengembangan diri dimulai, sampai akhirnya alhamdulillah, biarpun belum sekelas Paul Gilbert, tapi kalo buat sekedar narik perhatian aja sih, alhamdulillah udah lumayan lah, hehehe!

Oke, itu sedikit perjalanan saya belajar gitar, sampai jadi seperti sekarang. Tapi ada satu hal yang pengen saya realisasikan, mengembangkan hobi ini sampai menjadi sesuatu yang menghasilkan, tentunya duitlah! Jadi biarpun mungkin bakal capek, tapi karena itu hobi, dan itu adalah aktivitas yang mendarah daging dalam hidup, jadinya nggak akan terasa. Tapi yaa gitu deh. Wong musisi papan atas Indonesia sendiri kadang-kadang ada yang bilang, jadi musisi itu perjuangan maha berat. Apalagi kalo misalnya sang musisi ini masih bujang dan akan menikahi gadis idamannya. Pertanyaan yang pasti jelas menohok dari sang camer adalah, "Kerjanya apa dik?"

MODAR SIA!!

Kalo jawabannya pemusik, bisa-bisa jodoh menjauh, karena biasanya sang camer pasti menyarankan anaknya untuk cari pendamping lain saja, yang pekerjaannya lebih jelas, dan terutama yang bayarannya ajeg alias rutin tiap bulan. Kalo musisi kan mesti rekaman dulu, belum lagi kalo rekamannya jeblok di pasaran. Ampun deh! Tentang ini, pernah ada pengakuan dari Dave Elefsonnya Megadeth, kalo mau jadi musisi terkenal, ada beberapa syarat, termasuk kudu rajin nginthili alias nempel terus kemana si artis itu manggung. Ibaratnya jadi kacungnya pun ndak masalah. Yang kedua, dan ini yang paling sulit, kudu punya pasangan yang setidaknya mau menanggung kehidupan kita, sampai kita jadi musisi besar. Lha nek ndak ngetop-ngetop, kapan balik modale rek?

Makanya, kadang-kadang kalo saya mau ngembangin hobi saya dibidang musik, saya jadi ngeper sendiri. Karena meskipun sekarang sudah mulai banyak event-event indie, tetap saja butuh perjuangan yang teramat sangat berat, karena kalo kita membawa idealisme kita yang dibangun sejak dulu, sementara pasar tidak menghendaki, yaa tamatlah oooohh riwayatnyaaa...!! Jalan paling gampang yaaa, nglamar dulu jadi pegawai, trus kumpulin duit buat main musik. Tapi kalo yang seperti itu, paling repot kalo pas jadwal manggung atau rekamannya benturan dengan jadwal kerja. Saya pernah diejek seorang staf senior waktu masih di SS. Katanya, kalo untuk kerja kok saya jalan setengah-setengah, tapi untuk ngeband kok asyik banget, sampe bela-belain bolos kerja. Padahal tu orang matanya juga ndak PICEK!! Ada selembar surat cuti yang memang nempel di papan pengumuman waktu itu. Perkara saya pake cuti itu untuk apa saja, itu sih terserah saya. Wong ada staf lain yang dengan mudahnya cuti mendadak, cuma gara-gara dulu dia temen sekolahnya Manajer On Air, ternyata cutinya dipake untuk ndije di sebuah klub, atau misalnya ada staf lain, yang ternyata cuti untuk ngemsi di sebuah acara. Karena jabatannya setara dengan manajer, yaa dapet deh! Padahal dulu jelas-jelas di surat kontrak disebutkan, DILARANG melakukan pekerjaan lain yang bisa mengganggu aktivitas pada pekerjaan inti. Tapi namanya cari duit, larangan tinggal larangan. Biarpun ngeband, saya sih jujur aja, tetap bersikap profesional. Ngeband ya ngeband, hobi ya hobi, dan sebisa mungkin jadwal manggung tidak berbenturan dengan jam kerja, atau jangan sampai mengorbankan pekerjaan.

Makanya, saya kadang-kadang bingung. Maunya sih ngembangin hobi saya, tapi disisi lain, ada tanggungjawab yang juga harus saya lakukan, terutama karena status saya yang sekarang adalah sebagai kepala keluarga. Bingung? Jelas! Trus gimana? Yaa cari dulu deh jawabannya, hehehehe!!

Thursday, May 08, 2008

Harga Senyum

7 Mei kemarin, saya terbang ke Jakarta, untuk memenuhi undangan wawancara sebuah maskapai penerbangan internasional tanggal 8 Mei atau besoknya. Dan dengan semangat 45, saya udah siap-siap sejak pagi, dan kemudian saya berangkat ke Juanda, dianter Bapak Mertua tercinta naik sepedamotor. Katanya sih, sekalian pengen liat bandara baru. Soalnya sejak diresmikan tahun lalu, bapak mertuaku belum pernah liat bandara yang baru. Kalo yang ibu sih udah beberapa kali, soalnya juga pernah ikut ke Jakarta ketemu besannya tersayang hehehe!!

Oke, sesampainya di bandara, ada satu hal yang aku lupa. Biasanya sih aku bawa sesuatu untuk dibaca. Entah itu novel, atau majalah. Dan akhirnya, daripada ngutak-atik ponsel terus, yang pastinya berakibat batere habis dan pulsa terkuras, akhirnya mau nggak mau tergerak juga mendatangi toko buku di ruang tunggu bandara. Aku sih udah tau kalo harga di bandara adalah harga yang ugal-ugalan. Kalo buat orang berkantong pas-pasan, mendingan jangan beli apa-apa di bandara deh! Bukan menghasut, tapi karena harga selangit, tidak sebanding dengan pelayanan atau rasa kalau itu makanan.

Pas liat-liat, aku ingat kalo aku belum beli Auto Bild terbitan terbaru. Emang sih waktu itu aku sempet ngomong ke istri, tapi dasar emang kita berdua sering lupa (bukan pelupa ya?), tu majalah ndak kebeli juga. Nah pas aku lagi liat-liat itulah, mataku tertumbuk pada beberapa eksemplar Auto Bild edisi terbaru. Pikirku, yaa kalopun harganya diatas normal yang 20 ribu, paling-paling naiknya jadi 25 ribu. Itu dari pengalamanku beli tabloid Otomotif juga di bandara beberapa waktu lalu, yang ternyata harganya naik 5 ribu dari harga normal.

Begitu sampe ke kasir untuk bayar, ternyata dengan entengnya si petugas kasir menyebut angka, "40 ribu pak."

DUEENNGGG!!!

What the....aku langsung melototin lagi harga majalah itu, untuk memastikan kacamataku nggak burem, atau mataku nggak lagi lamur. Angka di majalah itu 20 ribu. Aku lalu protes, "Kok mahal banget? Kan harga aslinya cuma 20 ribu? Nggak salah nih?"

Si petugas kasir dengan senyum rada asem, yang menambah jelek wajahnya, menjawab omelanku, "Kalo disini kena pajak pak."

ASU!!

Namanya juga butuh, akhirnya kubeli juga sih majalah itu. Tapi jadi mikir juga, sebenernya berapa ya pajak di bandara itu? Apakah memang sampai segitu mahalnyakah harga pajak yang harus dibayar para pemilik tenant disitu, sampai-sampai mereka akhirnya tega menaikkan barangnya 2 kali lipat? Ahh.... aku cuma bisa ngomel dalam hati.... Harga Senyum Niyeee!!!